Google Translate Dianggap Seksis? Kok Bisa?

0
2917
Copyright ©Kompas

Google Translate Dianggap Seksis? Kok Bisa?

Oketekno.com – Baru-baru ini aplikasi alih Bahasa yakni Google Translate dianggap sudah melakukan diskriminasi berdasarkan gender ketika melakukan penerjemahan. Usut punya usut, pertama kali kasus ini ditemukan oleh seorang penulis yang bekerja di Universitas Chicago diketahui bernama Alex Shams.

Awalnya ia mencoba menuliskan beberapa kalimat sederhana seperti “dia adalah seorang dokter” dan “dia adalah seorang perawat” dengan menggunakan bahasa Turki.

Namun ketika kalimat tersebut diterjemahkan kedalam Bahasa Inggris, ia langsung heran. Sebab beberapa profesi atau pekerjaan langsung diasosiasikan kepada wanita. Seperti mencuci piring hingga profesi sebagai perawat.

BACA JUGA: Bermanfaat, Begini Cara Menghindari Macet Pakai Google Maps!

Sementara untuk pekerjaan lain seperti programmer hingga insinyur, Google penerjemahaknnya sebagai pekerjaan dari laki-laki. Menurut Shams, sistem penerjemah ini dianggap seksis dan bias gender.

Copyright ©Google Translate

Tak lama kemudian ia pun langsung mengabadikan temuannya itu melalui tangkapan layar. Shams memutuskan untuk mengunggah tangkapan layar tersebut melalui akun media sosial Twitter miliknya.

BACA JUGA: Yuhuu, Google Maps Go Sudah Hadir di Play Store Lho!

“Bahasa Turki merupakan bahasa yang netral terhadap gender. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Tapi, lihat apa yang terjadi ketika aku menerjemahkannya dalam bahasa Inggris,” tulis Shams di akun Twitter miliknya.

Hingga kini kicauan tersebut diretweet sebanyak 15 ribu kali dan beberapa komentar dari netizen. Rupanya postingan Shams pun sukses mencuri perhatian netter, ada yang kemudian mencobanya sendiri.

Dia bernama Taika Dahlbom, wanita asa; Finlandia ini menguji Google Translate dengan mengetikkan di dalam Bahasa ibunya. Kemudian Taka pun menerjemahkannya kedalam Bahasa inggris. Dan hasilnya secara keseluruhan kata tersebut diterjemahkan dalam bentuk orang ketiga laki-laki.

“Lihat, bagaimana seksisme Google Translate. Bahasa Finlandia adalah bahasa netral. Tapi Google memilih untuk memberi gelar berdasarkan pekerjaan mereka,” Kata Dahlbom.

Bertahun-tahun lamanya peneliti maupun pihak pengembang aplikasi berusaha untuk mengembangkan algoritma dari kecerdasan buatan agar menyerupai manusia. Kebanyakan algoritma tersebut diadaptasi berdasarkan perilaku data yang paling banyak dilakukan atau ditemukan.

Dan besar kemungkinan hal tersebut juga terjadi pada sistem penerjemah tersebut. Perusahaan asal Negeri Paman Sam itu memasukkan sistem algoritma berdasarkan frekuensi dan data yang paling banyak digunakan.

Perilaku yang dianggap diskriminasi pada gender yang terjadi pada aplikasi teknologi algoritma berbasis kecerdasan buatan, rupanya tak hanya terjadi pada Google Translate saja.

BACA JUGA: Inilah 3 Aplikasi Edit Foto Terbaru Android dan iOS dari Google!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here