Pikirkan Resiko Saat Akan Gunakan Software Bajakan!

0
540
Copyright ©TeknoSee

Mendingan Pakai Software Asli, Terjauhkan Dari Resiko!

Oketekno.com – Tentunya sejumlah orang masih ingat dengan kasus virus WannaCry yang beberapa waktu lalu menghebohkan dunia. Rupanya virus tersebut diangggap lebih betah jika menggunakan Software Bajakan.

Hal tersebut pernah dijelaskan oleh National University of Singapore (NUS)  dan kemudian disebar luaskan dengan merilisnya pada bulan Juli 2017 lalu. Dalam penjelasan tersebut, Associate Professor, Department of Electrical & Computer Engineering NUS, Biplap Sidar menuturkan bahwa para penjahat siber akan menyebarkan virus atau serangan malware dengan menggunakan tiga cara.

Cara pertama tak lain yaitu mereka memaketkan bersama dengan perangkat lunak yang tak ori. Selain itu, mereka punya ide untuk mengemaskan kedalam sebuah file yang bisa berjalan secara otomatis. Dan yang terakhir mereka menyelipkan virus pada perkakas anti virus.

BACA JUGA: Mengerikan, Malware Android Ini Bisa Rusak Fisik Smartphone!

“Pertama, dipaketkan bersama perangkat lunak bajakan. Kedua, mengemasnya dalam sebuah file yang bisa berjalan secara otomatis. Ketiga, menempelkan malware pada perkakas anti-malware bajakan,” kata Biplap Sidar, Associate Professor, Department of Electrical & Computer Engineering NUS.

Copyright ©kompas

Ransome WannaCry masuk pada sistem Windows yakni dengan memanfaatkan kelemahan yang ada protocol Server Message Block (SMB) yang merupakan milik Windows. SMB sendiri merupakan sebuah fitur yang memungkinkan antar komputer saling berbagi data.

BACA JUGA: 5 Tanda Browser Terserang Malware! Yuk Intip!

Pada saat itu, dengan susah payah Windows meluncurkan penangkal, terutama untuk seri Windows lama yang tak mendapat dukungan update keamanan. Akan tetapi, jika pengguna menggunakan Software Bajakan, maka hal tersebut tak berlaku. Dikarenakan perangkat bajakan biasanya tidak memiliki patch yang bisa dilakukan update. Jika ada, biasanya sifatnya terbatas.

Namun di Indonesia sendiri, perangkat bajakan ramai di pasaran. Bahkan biasanya perangkat itu dijual dengan harga mahal agar konsumen percaya kalau itu ori. “Bahkan, Indonesia berada di posisi nomor dua paling tinggi untuk tingkat infeksi virus di Asia Pasifik,” Ungkap Linda Dwiyanti yang merupakan Consumer Channels Groups Director Microsoft Indonesia.

Seperti yang diketahui, sebenarnya pemerintah sendiri sudah berupaya untuk menghindari hal tersebut. Pada tahun 2014 silam, melalui Undang-Undang Hak Cipta Nomor 28, pemberantasan pembajakan sudah mulai disuarakan. Jika terbukti bersalah, pihak pengelola gedung dan pusat perbelanjaan yang  lalai akan mendapat hukuman denda hingga Rp 100 juta. Harga Software Bajakan dengan asli mungkin memiliki perbedaan cukup jauh. Akan tetapi manfaat menggunakan Software asli terjauhkan dari resiko.

BACA JUGA: Pasca Update Software, Google Pixel 2 XL Semakin Bermasalah!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here