Kebijakan Baru Telegram Mengancam Para Teroris yang Masih Bertebaran

0
1543
Telegram Smartphone
Copyright ©CBS News

Pavel Durov Berikan Kebijakan Baru yang Lebih Fleksibel

Oketekno.com – Meski sekarang ini sudah banyak sekali aplikasi perpesanan yang begitu populer seperti LINE, WhatsApp, Messenger dan lainnya, akan tetapi layanan Telegram juga tidak bisa kita lupakan begitu saja guys. Meski tidak begitu populer, namun penggunanya masih cukup banyak di seluruh Dunia termasuk Indonesia juga pastinya.

Jika kalian ingat pada tahun 2017 kemarin layanan Telegram telah diblokir di Indonesia, dan ketika Pavel Durov selaku pejabat tertinggi sekaligus pendiri perusahaan Telegram Messenger LLP tiba di Tanah Air dan berunding, layanan terbuka bebas kembali.

Simak Nih: Cara Mengetahui Chat ID Telegram Untuk Tambah Pertemanan

Akan tetapi sayang kemarin lalu masalah kembali lagi dan Kemkominfo juga mengancam kalau pihaknya akan melakukan pemblokiran dengan segera terhadap aplikasi perpesanan tersebut. Hal ini dikarenakan memang apliasi Chatting berlogo pesawat kertas ini sering kali dimanfaatkan oleh para terorisme berkomunikasi satu sama lain tanpa diketahui pemerintahan, sebab sistem keamanannya yang sulit ditembus, bahkan tidak mungkin.

CEO Telegram
Copyright ©RFE/RL

Terkait hal tersebut, Pavel Durov secara global telah mengatakan kalau pihaknya bersedia membantu Negara mana saja untuk melakukan penyelidikan terhadap teroris. Untuk bantuan ini nantinya bakal diberikan selama ada perintah resmi dari pihak pengadilan.

Ketahui Yuk: Cara Gunakan Telegram di Laptop atau Komputer Manapun Hanya dengan Flashdisk

Sebagaimana yang telah dilansir dari laman Softpedia, melalui pengaturan ini privasi baru untuk telegram, Durov menyatakan kalau informasi pengguna nantinya akan diberikan kepada pihak investigator berdasarkan permintaan pihak pengadilan.

“Jika Telegram menerima perintah pengadilan yang mengonfirmasi bahwa Anda adalah tersangka teroris, kami akan mengungkapkan alamat IP dan nomor telepon Anda kepada pihak berwenang yang relevan. Sejauh ini, hal semacam ini belum pernah terjadi. Ketika nanti terjadi, kami akan memasukkannya dalam laporan transparansi setengah tahun,” demikian penjelasan yang tertulis di kebijakan privasi baru Telegram,” seperti itulah yang tertulis pada kebijakan baru Telegram.

Akan tetapi untuk kerjasama serupa tidak diberikan oleh perusahaan Telegram terhadap Negara Rusia. Pasalnya layanan ini sudah diblokir sejak awal tahun 2018 kemarin. Pasalnya Rusia meminta untuk memberikan akses kepada seluruh pengguna sehingga Pavel Durov memutuskan untuk menolak permintaan tersebut dan tetap mempertahankan layanannya yang memang memiliki keunggulan dalam sektor keamanannya.

baca juga: Melalui Pembaruan Ini, Telegram Semakin Aman dan Keren

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.